Berita Utama

Kasus Hervina, 37 Warga Desa Sadar Ajukan Petisi Tolak Kepsek

RADARBONE.ID–Sebanyak 37 Warga Desa Sadar Kecamatan Tellu Limpoe menandatangani petisi sebagai bentuk dukungan terhadap Hervina, guru honorer SDN 169 Sadar Kecamatan Tellu Limpoe yang dipecat.

Dalam petisi itu, masyarakat menyatakan tidak setuju dengan kepemimpinan Kepsek SD 169 Sadar dengan alasan jarang hadir di sekolah dan tidak bisa lagi bersinergi dengan masyarakat.

Hervina saat menyampaikan aspirasi di DPRD Bone, Senin 15 Februari 2021, mengaku dipecat melalui pesan whatsapp. Ia mengaku diberhentikan oleh Jumran, suami kepala sekolah (Hamsina) yang notabene tidak punya wewenang di sekolah itu.

“Awalnya saya posting di facebook nominal gaji. Termasuk rinciannya untuk bayar hutang. Terakhir saya tulis untuk saya mana?,” katanya.

Setelah itu, suami kepala sekolah menelepon, meminta dirinya berhenti mengajar. “Pak aji kirim pesan WA, tabe cari saja sekolah yang lain yang bisa gaji ki lebih banyak, mulai sekarang Istirahat saja mengajar,” ujar Hervina menirukan pesan singkat pemecatannya.

“Cukup saya yang merasakan pak. Semoga tidak ada honorer lain yang menjadi korban diskriminasi,” tambahnya.

Ketua DPRD Bone, Irwandi Burhan mengaku aspirasi ini segera ditindaklanjuti melalui rapat kerja. Benar saja, usai Hervina melaporkan kasus yang menimpanya ke Inspektorat Bone, Ia langsung dipanggil menghadiri rapat rapat dengar pendapat di Komisi IV DPRD Bone. Rapat itu turut dihadiri Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Bone, Drs Nursalam MPd. Sayangnya, Kepsek SDN 169 Sadar, Hamsina tak hadir.

Dalam rapat kerja di Komisi IV, Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Bone, Drs Nursalam MPd menegaskan pemecatan atau pemberhentian guru honorer secara lisan dianggap tidak sah.
“Itu tidak sah pemecatannya kalau hanya lewat begitu saja, olehnya itu kami berupaya untuk memediasi mereka,” ungkapnya.

Tak hanya itu, kata dia pihaknya juga meminta guru honorer tersebut untuk memperlihatkan ampra gajinya untuk mengetahui besaran gaji yang sebetulnya ia terima.

“Kami minta ampra gajinya apakah betul jumlahnya hanya Rp50.000 perbulan, karena ini yang beredar, kemudian kami juga minta SK honornya karena yang beredar pengakuannya sudah 16 tahun mengajar sementara umunya baru 34 tahun sehingga boleh waktu masuk honor baru berusia 18 tahun atau baru tamat SMA jadi kemungkinan belum sarjana,” tutupnya.

*

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top