Berita Terkini

OPINI: Pulau Lamputang Kian Terkikis, Bagaimana Masyarakat Melindungi?

Oleh : Riska Damayanti
Mahasiswi Pascasarjana Teknik Kelautan ITS

“LAUT SUMBER KEHIDUPAN, BUKAN SUMBER KESERAKAHAN

Wilayah pesisir merupakan daerah pertemuan antara darat dan laut yang merupakan kawasan yang sangat dinamis dari segi fisik, sosial dan ekonomi. (Marfai, Rahayu dan Triyanti, 2015).

Wilayah pantai ini merupakan daerah yang sangat intensif dimanfaatkan untuk kegiatan manusia, seperti sebagai kawasan pusat pemerintahan, pemukiman, industri, pelabuhan, pertambakan, pertanian atau perikanan, pariwisata, dan sebagainya.

Kondisi iklim wilayah PulauLamputang secara umum ditandai dengan jumlah hari hujan dan curah hujan, dan sangat dipengaruhi oleh angin musim.

Pada dasarnya angin musim di PulauLamputang dipengaruhi oleh letak geografis wilayah yang merupakan daerah kepulauan yang berada pada ketinggian±2 m diatas permukaanlaut.

PulauLamputang merupakan salah satu dari beberapa dusun yang membentuk sebuah desa yang bernama Desa Mattiro Dolangeng yang berada dibawah naungan Kecamatan Liukang Tupabbiring, Kabupaten Pangkep.

Dusun ini memiliki luas wilayah berkisar 1,5 km2 dengan jumlah penduduk sekitar 122 KK yang mendiaminya (Husain,  dkk, 2020).  Peningkatan pemanfaatan areal pantai dapat berdampak pada terganggunya ekosistem dan keseimbangan pola hidrodinamika pantai seperti terjadinya perubahan garis pantai dengan meningkatnya erosi dan sedimentasi.

Perubahan Garis Pantai Daerah Pulau Lamputang. (Sumber: Novita Kumala Putri, S.T)

Pulau Lamputang juga merupakan wilayah yang aktivitas ekonominya bergantung pada wilayah pesisir. Hal ini dapat menimbulkan peningkatan kebutuhan akan lahan, sarana dan prasarana penunjang kegiatan masyarakat sekitar.

Namun akibat keterbatasan lahan, kegiatan perekonomian pulau pun menjadi terbatas dan kurang maksimal.

Permasalahan tersebut dikarenakan Pulau Lamputang mengalami erosi/abrasi pada garis pantai, serta mengalami ancaman gelombang pada pemukiman penduduk dan fasilitas umum.

Erosi pantai yang disebut juga abrasi akhir-akhir ini cenderung meningkat di berbagai daerah.

Tanggul penahan ombak dan sekolah terdampak abrasi

Jarak antara air laut dengan bangunan sekolah pada saat pasang. (Sumber: Pulau Lamputang, Juli 2019)

Abrasi merupakan pengikisan atau pengurangan daratan (pantai) akibat aktivitas gelombang, arus dan pasang surut.

Pantai dikatakan mengalami abrasi bila angkutan sedimen yang terjadi kesuatu titik lebih besar bila dibandingkan dengan jumlah sedimen yang terangkut keluar dari titik tersebut.

Saat ini salah satu permasalahan yang terjadi di wilayah Pulau Lamputang adalah abrasi yang diakibatkan oleh serangan gelombang yang terus-menerus.

Sehingga kegiatan melaut kadang terkendala akibat terjangan gelombang yang mengakibatkan proses menurunkan kapal kelaut menjadi sulit. Begitu juga ketika hendak menaikkan atau menambatkan kapal.

Dampak abrasi mengakibatkan banyak permasalahan seperti hilangnya lahan pemukiman, lahan tambak dan mata pencaharian yang berdampak langsung pada penurunan kualitas hidup.

Masyarakat yang hidup di wilayah pesisir seperti nelayan, petani dan petambak yang kehidupannya bergantung pada sumber daya alam sangat merasakan dampak dari hal tersebut.

Kondisi lingkungan dan sumber daya alam pesisir yang rentan tersebut juga berdampak pada aspek sosial ekonomi dan sosial budaya penduduk.

Kegiatan-kegiatan tersebut misalnya industri (berpotensi menimbulkan pencemaran, abrasi dan akresi), reklamasi (perubahan pola arus yang menyebabkan terjadinya abrasi dan akresi), perumahan (limbah padat) pertanian (sedimentasi, pencemaran kegiatan transportasi laut dan pelabuhan (pencemaran).

Berbagai kerusakan dan pencemaran lingkungan ini mengancam kelestarian lingkungan setempat serta usaha dan atau mata pencaharian penduduk yang sebagian besar bekerja sebagai nelayan di pulau tersebut sangat bergantung pada kondisi pantai yang baik.

Mayoritas mata pencaharian pokok penduduk Pulau Lamputang adalah nelayan dengan presentase 70 persen yang disusul dengan pedagang 15 persen.

Hal ini disebabkan karena sudah turun temurun sejak dulu bahwa masyarakat adalah nelayan. Juga minimnya tingkat pendidikan yang disebabkan karena masih kurangnya fasilitas pendidikan yang ada di desa. Masyarakat terbatas dalam menempuh pendidikan.

Pulau lampuang memiliki ekosistem pesisir khususnya terumbu karang yang masih terawat dan terjaga kelestariannya.

Abrasi pantai di kawasan Pulau Lamputang didasarkan pada adanya 2 aspek yaitu faktor alami dan aktivitas manusia.

Pada beberapa titik di Pulau Lamputang mengalami kerusakan yang diakibatkan oleh terjadinya perubahan garis pantai yang disebabkan oleh perubahan parameter oseanografi seperti pasang surut, arus dan gelombang.

Kerusakanyang berlangsung terus menerus maka akan terjadi tekanan terhadap daya dukung pantai yang kemungkinan akan mengganggu dan mengurangi daripada fungsi pantai.
Pada akhirnya akan menjadi ancaman bagi kelangsungan hidup baik ekosistem pantai maupun masyarakat Pulau Lamputang.

Abrasi yang terjadi disepanjang garis wilayah Pulau Lamputang bukan hanya di pengaruhi oleh faktor alam, namun karena adanya kegiatan pengambilan sedimen pasir untuk kebutuhan pemukiman masyarakat pulau tersebut.

Pada pulau ini terdapat tanggul penahan ombak yang berada pada sisi sebelahkanan dan kiri dermaga yang difungsikan juga sebagai tempat sandar kapal nelayan sehingga sangat memungkinkan terjadinya abrasi pada bagian lain di pulau tersebut.

Kondisi sangat memprihatinkan terlebih kepada fasilitias sekolah dimana limpasan dari gelombang bisa sampai pada pondasi jika terjadi pasang walaupun terdapat tanggul penahan di depan sekolah, hal tersebut diakibatkan oleh gelombang yang berasal dari arah lain.

Jika terjadi secara terus menerusakan mengakibatkan kerusakan pada fasilitas.
Beberapa pemukiman warga juga terdampak, yang dapat mengancam keselamatan mereka.Selainitu, lokasi di tempat pemakaman umum (TPU) juga sebagian hilang karena tersapu oleh ombak.

Dengan permasalahan yang terjadi, maka perlu dilakukan perencanaan berkelanjutan untuk mengatasi abrasi pantai berupa pemecah gelombang atau breakwater.
Breakwater merupakan struktur yang dirancang untuk melindungi daerah sepanjang garis pantai dari hempasan gelombang laut dengan cara menyerap sebagian energi gelombang.

Pemecah gelombang tersebut akan digunakan untuk mengendalikan abrasi yang dapat menggerus garis pantai serta meredam gelombang sehingga nelayan dengan mudah menambatkan kapal mereka.

Proses penentuan posisi dan ukuran konstruksi breakwater didasarkan pada pengukuran pasang surut muka air laut untuk menentukan pasang tertinggi dan surut terendah pada pulau tersebut.

Pengetahuan akan pasang surut sangat penting di dalam perencanaan bangunan pengaman pantai dimana elevasi puncak bangunan pemecah gelombang ditentukan oleh elevasi muka air pasang, sementara elevasi muka air surut penting diketahui untuk menentukan kedalaman dari alur pelayaran.

Dengan adanya struktur break water pada pulau tersebut maka tinggi gelombang yang sampai kepantai akan berkurang karena gelombang yang datang akan melewati pelindung pantai sehingga gelombang yang akan menghantam pantai sudah berkurang dan abrasi dapat dikurangi atau dicegah.

*

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top